Sabtu, 04 September 2010

Alat reproduksi wanita

Sistem reproduksi wanita

Bagian-bagian dari system reproduksi wanita sebagai berikut.

1. Alat kelamin luar
Alat kelamin luar perempuan disebut vulva, yang termasuk mons-veneris, yaitu penonjolan jaringan otot beserta lemak yang empuk. Pada perempuan yang telah akil balig mons-veneris akan ditumbuhi oleh rambut (pubic hairs). Rambut ini merupakan tanda kelamin sekunder (secondary sexual sign) bagi seorang perempuan.
Di sekeliling lubang vagina dan urethra, terdapat lipatan jaringan otot lemak yang disebut bibir kelamin luar dan dalam (labium majus dan labium minus). Ukurang panjang, lebar, dan bentuk bibir kelamin ini bermacam-macam. Selain itu, terdapat pula bibir kelarmin yang letaknya lebih ke dalam lagi, di sebelah kiri dan kanan, dan bertemu di atas membentuk sudut yang menonjol, disebut clitoris. Secara embriologi, clitoris identik dengan glans penis pada pria. Clitoris (maupun glans penis) terdiri dari sel-sel yang sangat sensitive dan erektil (erectile).
Sebagaimana halnya penis,clitoris pun akan membengkak karena darah memenuhi jaringan clitoris, ketika menerima rangsangan seksual. Secara histologis, clitoris mengandung ujung syaraf (nerve endplates) dalam jumlah yang cukup banyak sehingga sangat sensitive dan erektil. Oleh karena itu, baigan inilah yang akan terangsang ketika perempuan melakukan coitus atau masturbasi.
Ukuran dan panjang clitoris sangat bervariasi, namun pada umumnya sekitar 0.6 – 2.5 cm. Seperti halnya glans clitroris yang diselimuti oleh preputium. Penyayatan terhadap preputium clitoris, banyak dilakukan oleh berbagai suku bangsa, baik secara adat dan budaya maupun religius
2. Alat kelamin dalam

a. Vagina
Vagina merupakan sebuah liang yang dindingnay terdiri dari lipatan-lipatan elastic. Pada saat melakukan coitus, penis dimasukkan ke dalamnya. Oleh karena itu, vagina disebut pula liang senggama. Vagina pun menjadi jalan keluarnya bayi yang akan lahir.
Dalam keadaan normal (istirahat), panjang liang vagina sekitar 10-15 cm. Sepertiga bagian vagina dari arah luar sangat sensitive, sedangkan duapertiga baigan yang lainnya kurang sensitive. Dinding lubang vagina selalu basah karena adanya sekresi lendir yang sifatnya asam. Sekresi lendir ini akan meningkat ketika vagina menerima rangsangan seksual. Sekresi lendir ini diperlukan sebagai sebagai pelican ketika terjadi mekanisme coitus. Vagina yang selalu basah merupakan salah satu alasan terjadinya infeksi oleh beberapa mikroorganisma, seperti bakteri, kuman, protozoa, dan jamur, apalagi bila derajat keasaman di dalam vagina berkurang.
Liang vagina seorang perempuan masih gadis, masih ditutupi oleh selaput tipis (membrane) yang disebut selaput dara (hymen). Hymen dipercaya sebagai simbol kesucian gadis, meskipun adakalanya hymen ini dapat sobek atau hilang, pada saat seorang gadis melakukan olahraga, kecelakaan fisik (trauma mekanis), ketiak melakukan masturbasi, dank arena infeksi. Bahkan, beberapa gadis ada yang tidak memiliki hymen sama sekali. Sebaliknya, ada perempuan yang hymennya masih utuh meskipun telah melakukan coitus, beberapa kali. Hal ini terjadi karena hymen yang dimilikinya sangat tebal, dan sangat elastis.
Di sekitar liang vagina terdapat dua buah kelenjar yang menghasilkan lendir, disebut kelenjar bartholini. Pada pria, kelenjar ini disebut kelenjar cowper.

b. Uterus
Uterus adalah suatu organ yang besarnya sama dengan kepalan tangan orang dewasa. Dalam keadaan normal (istirahat), bentuknya menyerupai buah pir, berongga (hollow) dan penuh dengna jaringan otot memanjang ke atas. Posisinya hampir membentuk sudut tegak lurus dengan sumbu/ poros vagina. Di antara vagina dan uterus terdapat jaringan yang menonjol membentuk cincin yang disebut leher rahim atau cervix uteri. Cervix uteri ini, kadang-kadang sangat menonjol kea rah vagina, yang panjangnya sekitar 1 cm dan dapat diraba dengan jari ketika pemeriksaan dilakukan melalui palpasi dalam. Cervix uteri adalah sebuah lubang yang sempit, yaitu sebesar diameter sedotan minuman (thin straw).
Pada saat seorang wanita melahirkan, cervix uteri dapat sobek dan tidak menutup kemungkinan terjadi infeksi. Selain itu, cervix uteri pun seringkali terjangkit oleh penyakit kanker, yang dikenal dengan kanker leher rahim. Itulah sebabnya dianjurkan kepada setiap wanita untuk melakukan papsmear-test, yaitu salah satu upaya untuk mengetahui adanya pertumbuhan kanker cervix uteri sedini mungkin.
Berdasarkan angka statistic, pada umumnya kanker cervix-uteri diderita oleh wanita pada usia sekitar 35-45 tahun. Khususnya, pada wanita yang memiliki pola hidup tidak bersih, kondisi kesehatan yang kurang baik, dan sering melahirkan anak. Jenis kanker ini, dapat pula terjadi pada cervix uteri yang sering mengalami iritasi, infeksi oleh mikroorganisme, dan pada wanita yang penis suaminya tidak disirkumsisi. Alih-alih kesehatan mengatakan bahwa preputium pria yang tidak disirkumsisi dapat menampung kotoran atau mikroorganisme pathogen. Kenyataan ini dapat dibuktikan pada wanita yang masih perawan, jarang menderita kanker cervix uteri.
Lapisan dalam dari uterus disebut endometrium. Di dalam endometrium ini, sel ovum yang telah dibuahi akan tumbuh.

c. Oviduct
Oviduct disebut pula tuba fallopian atau saluran telur, jumlahnya dua buah, di sebelah kiri dan kanan yang menghubungkan ovari dengan uterus. Panjang oviduct sekitar 10 cm, berupa saluran kecil yang berlumen. Diameter oviduct sebesar lubang jarum. Ujung yang satu membuka ke arah uterus, yang letaknya agak ke belakang. Ujung yang satu lain membuk kea rah ovari, membentuk rumbai menyerupai jari-jari seperti cum-cumi membentuk corong mengelilingi setiap ovari, tetapi tidak melekat. Dinding saluran oviduct ini dilengkapi oleh sel-sel berambut (cilia) yang bergerak mendorong sel ovum masuk ke dalam uterus.

d. Ovari (ovarium)
Ovari adalah organ kelengkapan alat reproduksi wanita, yang berbentuk buah sawo kecik, jumlahnya dua buah, letaknya di sebelah kiri dan kanan, agak di belakang uterus. Letak ovari ini, tergantung dari jaringan ikat, yang dilindungi oleh jaringan lemak. Ovari memiliki dua fungsi sebagai berikut:
 Menghasilkan sel telur (ovum)
 Menghasilkan hormone seksual.

Sel telur dibentuk mulai dari oogonia, selanjutnya, membelah secara mitosis. Selanjutnya, membelah lagi secara meiosis menjadi sel-sel telur. Kemudian, sel telur membesar dan di sekelilingnya tumbuh sel-sel yang akan membentuk folikel. Seorang bayi perempuan sudah membawa berjuta-juta calon ovum, tetapi setelah dewasa tinggal sekitar 300.000 sel saja. Pada umumnya, pola pematangan satu sel telur pada ovari, terjadi setiap 28 hari. Proses inilah yang mendasari terjadinya siklus haid (menstruasi) pada wanita, sejak masa puber.
Ovum yang sudah matang akan menonjol keluar dari folikel. Pada saat yang bersamaan, folikel akan membesar yagn seibut folikel graafian. Selanjutnya, folikel graafian akan pecah ketika sel telur melepaskan diri. Fenomena seperti ini disebut proses ovulasi.
Corong oviduct yang berbentuk rumbai jari-jari tangan akan menangkatp sel telur yang dilepaskan. Corong oviduct dilengkapi pula dengan rumbai-rumbai (cilia). Cilia di dalam oviduct akan bergerak, mengarahkan sel telur masuk ke dalam saluran telur. Apabila dalam waktu yang bersamaan, turunnya sel ovum ke dalam oviduct tersebut terdapat sel sperma yang aktif maka akan terjadi proses penetrasi/ konsepsi (conception). Apabila konsepsi tidak terjadi maka sel telur akan didisintegrasi. Peritiwa ini, sering dirasakan oleh seorang wanita sebagai rasa mual dan nyeri abdominal. Disintegrasi sel ovum yang disertai perombakan dinding endometrium akan keluar bersama pendarahan melalui vagina. Fenomena ini dikenal dengna haid (menstruation). Folikel graafian yang ditinggalkan oleh sel ovum akan membesar dan membentuk semacam jaringan (badan) berwarna kuning yang disebut corpus luteum. Peranan corpus luteum ini sangat penting karena akan mengeluarkan hormone.